Jangan
Menyerah
Tak ada manusia yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali segala yang telah
terjadi
Kita pasti pernah dapatkan cobaan yang
berat
Seakan hidup ini tak ada artinya lagi
Syukuri apa yang ada
Hidup adalah anugrah
Tetap jalani hidup ini
Melakukan yang terbaik
Tuhan pastikan menunjukkan
Kebesaran dan kuasanya
Bagi hambanya yang sabar
Dan tak kenal putus asa
Kandungan
lagu “Jangan Menyerah”
Dalam menjalani hidup seseorang
tidak boleh putus asa. Karena hidup
adalah anugrah dan pasti Tuhan akan menunjukkan kasih sayangnya. Seseorang
harus selalu mensyukuri segala sesuatu yang ada dalam kehidupannya. Karena dengan
bersyukur itulah kenikmatan akan semakin terasakan.
Cerita
Siang Itu
Pagi yang dingin membawakan suasana
sepi. Langit sedikit bersahabat dengan ditaburi bintang – bintang menghias
mayapada ini. Tak kalah pancaran Dewi Malam ikut meramaikan lukisan kebesaran Tuhan yang Maha Agung. Berpadu dengan gema
adzan tahajud yang mengingatkan setiap hamba untuk mencurahkan semua isi
hatinya dan menghadap Tuhannya.
Cahaya benderang itu membangunkan Neyla dari mimpi panjang, ia kerjap – kerjapkan
matanya dan ia geliatkan tubuhnya menikmati pergantian proses bangun dari
tidurnya. Sejenak ia teringat akan lika – liku perjalanannya. Semua yang
terjadi hanyalah kuasaNya dan Neyla sadar ia hanyalah wanita kerdil yang tak
bisa apa – apa. Ia hanyalah wanita lemah yang mempunyai banyak impian. Namun ia
sadar apalah dayanya.
Tak terasa bulir – bulir air mata
menitik dari sudut mata mungilnya. Ia tak mau terlarut – larut dalam khayalan
yang menjadikan manusia semakin terlena. Maka, dengan segera ia bangkit dan
bergegas menuju ke belakang. Ia basuh muka, tangan dan kakinya. Byuuuurrr…
sangat terasa kesejukan air sumur yang selalu tersedia di desanya. Ia sangat
bersyukur bisa tinggal di desa karena alamnya sangatlah mempesona. Tak lupa ia
menggosok gigi mungilnya yang setiap hari memberikan senyum kepada orang – orang di sekitarnya.
Dilanjutkan dengan tahajud, Neyla
menikmati semua gerakan sholat tahajudnya. Dimulai dengan takbir ia menyatu
dengan alam, keheningan yang tercipta membuat Neyla semakin merasakan betapa
dekatnya dia dengan Allah. Setelah selesai Neyla mempersembahkan doa – doa
untuk orang – orang yang disayanginya. Kenangan – kenangan indah pun membayang
– bayang diwajah imutnya. Ayah Bundanya yang berjuang dengan keras membuatnya
menitikkan air mata.
Ayah Bunda Neyla harus berbakti, Neyla
ingin menjadi anak solihah. Tak sadar terlintas rencana – rencana ke depan
untuk hidupnya.
---₪₪₪₪₪---
Allahu Akbar Allahu Akbar.. Allahu
Akbar Allahu Akbar…..
Gema adzan subuh membangunkan Neyla,
segera ia bangun. Tak lupa ia minum segelas air untuk membantu menjaga
kesehatannya. Kemudian ia mengambil air wudhu dan segera melaksanakan Sholat
Subuh. Setelah selesai menghadap Allah Neyla
segera membantu Bundanya dan bersiap – siap untuk berangkat ke sekolah. Setelah
selesai dengan persiapannya, Neyla pamit kepada ibunya.
“ Bu Neyla berangkat sekolah dulu
ya?.” Sambil mencium tangan ibunya.
“ Iya Ney, hati – hati di jalan.
Jangan lupa untuk selalu menjadi anak yang baik, hormatilah orang yang lebih
tua, dan bersikap sopanlah kepada orang lain.” Nasehat Bundanya.
“ Baik bu, insyaalloh Ney ingat
selalu pesan ibu.” Jawab Ney disertai kembangan senyumannya.
“ Yah, Ney berangkat dulu ya?.”
Sambil mencium tangan Ayahnya.
“ Iya Ney, yang istiqomah ya Ney.”
Pesan Ayahnya.
“ Assalamu’alaikum Bun, Yah.” Salam
Neyla.
“ Wa’alaikumsalam..” Jawab Ayah Bundanya.
---₪₪₪₪₪---
Teeeett…
teeeettt.. Teeeeeeettttt….
Bel
berbunyi membuat Neyla masuk ke kelas. Setelah mempersiapkan segala sesuatunya,
Ibu Guru yang mengajar mata pelajaran matematika pun masuk ke kelas. Beliau
menyampaikan pelajaran decngan metode yang membuat siswa – siswa merespon
dengan baik. Sehingga tak terasa bel pun berbunyi.
Teeeett…
teeeettt.. Teeeeeeettttt….
Teman
– teman Neyla pun merapikan mejanya. Ada juga yang langsung ke kantin karena
bunyi yang berasal dari perut sudah
tidak dapat ditolerir lagi. Neyla sedang merapikan bukunya dan dia
berbincang – bincang kepada teman sebangkunya
“Rim
kamu mau ke perpus?.” Tawar Neyla
“
Gimana ya ? Hmmm.. Oklah, aku mau. Lama gag ?.” Tanya Rima.
“
Ya biasalah, soalnya mau cari referensi juga Rim.” Neyla menjawab.
“Waduh
Ney, biasanya ni ya, kalau kamu dah cari gitu-gituan bakalan lama. Hmm ..
Gimana ya?. Maaf ya Ney kayaknya aku enggak bisa..” Jawab Rima.
“
Oklah, enggak apa-apa. Lagian masih ada kok temen yang lainnya..” Respon Neyla.
Kemudian
Neyla pun mengedarkan pandangan ke penjuru kelas untuk mencari teman-temannya
yang bisa di ajak ke perpustakaan. Dan akhirnya Neyla mengajak Rahma untuk ke perpustakaan.
“
Hello Rahma baru sibuk gag?.” Tanya Neyla.
“
Hello juga Ney, enggak Ney, ada apa?.” Respon Rahma terhadap pertanyaan Neyla.
“
Ke perpustakaan yukk?.” Tawar Neyla.
“
Kebetulan banget nih.. Aku juga mau ke sana. “
“ Syukur deh kalau
gitu, ok aku tunggu.” Jawabnya.
“ Ok ok. Bentar aku
ambil buku dulu.” Pinta Rahma.
Lalu mereka pun menuju
ke perpustakaan yang tak jauh dari kelas mereka. Di sana Neyla mencari
referensi untuk membuat tugas biologinya. Tiba - tiba ponselnya berdering yang
menunjukkan adanya pesan singkat masuk di ponselnya. Namun, tiba – tiba mukanya
berubah menjadi gelisah.
“ Ada apa Ney?.” Tanya Rahma.
“ Ini ma, ada pesan
dari senior kalau aku harus ke ruang OSIS. Padahal kan dah jam segini.” Jawab Neyla.
“ Ya udah enggak apa –
apa. Ke sana dulu aja. Nanti aku ijinin.” Janji Rahma.
“ OK, makasih ya Rahma.
Aku ke ruang OSIS dulu ya?.” Ucap Neyla dengan terharu.
“ Ok, hati – hati..”
Pesan Rahma.
---₪₪₪₪₪---
Di perjalanan Neyla
bertemu dengan teman – temannya, banyak yang menyapa Neyla. Bahkan ada juga
yang menjabat tangannya.
“ Hello Ney, mau
kemana?.” Sapa seorang temannya, Nobi.
“ Hello juga Nobi, mau
ke ruang OSIS.” Jawab Neyla.
“ Oh.. Ke ruang OSIS
ya? Tadi ada juga kakak kelas yang ke sana.” Jawab Nobi menginformasikan.
“ OK, makasih banyak Nobi.”
Ucap Neyla.
Akhirnya Neyla pun
sampai di ruang OSIS. Di sana ternyata sudah ada ketua, wakil ketua, dan bendahara.
“
Assalamu’alaikum, ternyata udah kumpul to? Ada apa? Kok sepertinya ndadak
banget?.” Tanya Neyla ingin tahu.
“
Wa’alaikumsalam.. Iya nih. Kamu lama banget..” Jawab teman-temannya.
“
Gini Ney, tadi kita dapat info dari pembina kalau sekolah mau mengadakan kerja
bakti bersama. Dan kita dapat amanah untuk mengkoordinir jalannya acara
tersebut.” Jawab Ersa ,ketua OSIS SMA merdeka, dengan wajah berseri-seri.
“
Iya Ney, jadi kita harus rapat untuk mengadakan acara tersebut.” Jawab Dion
menambahkan.
“
Kak boleh usul tidak?.” Acung Hana sebagai bendahara.
“
Iya, silahkan..” Jawab ersa.
“
Kak, bagaimana kalau rapatnya saat istirahat kedua saja. Sekarang waktunya
kurang kak, lagi pula lebih memuaskan kalau nanti istirahat, lebih panjang
waktunya.” Saran Hana.
“
Iya kak, aku juga setuju dengan Hana.” Jawab Neyla.
“
OK, rapat kita lanjutkan istirahat kedua. Jangan lupa untuk mempersiapkan konsepnya
ya?. ” Jawab Ersa.
“
Baiklah kita tutup pertemuan kita pagi ini dengan berdoa sesuai kepercaaan kita
masing – masing. Berdoa dimulai.” Pimpin Dion.
2
menit kemudian.
“
Berdoa selesai.” Ucap Dion.
Kemudian
personil OSIS itupun keluar dengan tenang. Mereka berpisah satu sama lain
karena berbeda – beda kelas. Ketika keluar Neyla melihat suasana sudah sepi,
padahal waktu terasa sangat sebentar sekali. Dia melihat siswa – siswa sudah
masuk ke kelas masing. Kelas pun banyak
yang sudah dimasuki gurunya masing – masing. Akhirnya dia pun bergegas masuk ke
kelasnya. Di kelas telihat dari luar Ibu Mia sudah ada di kelas. Tapi bagaimanapun
juga niatlah adalah untuk menuntut ilmu.
Jadi apapun resikonya harus ia hadapi, termasuk sekarang. Ia terlambat masuk
kelas.
“
Assalamu’alaikum.. “ salam Neyla dari pintu.
“
Wa’alaikumsalam..” jawab teman – temannya dan Bu Mia.
“
Maaf Bu Neyla terlambat, tadi baru saja rapat OSIS. “ sambil mencium tangan Bu
Mia.
“
Besok – besok jangan terlambat ya? Bukankah tadi sudah berjanji masuk kelas 5
menit sebelum pelajaran?. Kalau begitu terus nantikan teman – teman bisa
meniru. Kan bisa repot?.” Nasehat Bu Mia.
“
Iya Bu, maafkan saya.” Jawab Neyla dengan wajah penuh penyesalan.
“
Baiklah, besok – besok jangan diulangi.
Ibu tidak suka murid Ibu menjadi seperti ini.” Tambh Bu Mia.
“
Baik Bu.” Wajah Neyla sedikit berkaca – kaca. Dia terbawa dengan perasaannya.
“
Baiklah Ney sekarang silahkan duduk. Ingat jangan ulangi lagi ya?.” Pinta Bu
Mia.
“
Baik Bu.” Janji Neyla.
Sampai
di tempat duduknya, wajah Neyla menjadi merah karena malu dengan teman –
temannya. Ia mengelus dadanya, karena berfikir baru saja masuk kelas tapi Bu
Mia sudah memberinya banyak nasehat seakan dunia ini mau runtuh saja. Terbayang
bagaimana jika seandainya rapat OSIS tadi dilanjutkan, mungkin sudah lebih
parah lagi. Tapi, bagaimanapun juga Bu Mia adalah gurunya. Guru yang sangat
baik hati dan sabar terhadap semua muridnya. Mana mungkin Neyla marah kepada
guru favoritnya itu. Terbayang betapa berdosanya Neyla telah membuat gurunya
menjadi marah kepadanya. Sebuah suara lembut pun membangunkan Neyla dari
khayalannya.
“
Neyla.. “ sapa Rima yang ternyata baru saja dari ruang guru. mengambil media
pembelajaran.
“
Eh Rima, iyaa.. eh ada apa? “ jawabnya agak terkejut.
“
Ada apa Ney?.” Tanya Rima.
“ Enggak apa – apa. Tadi cuma masalah sepele
aja kok. Gara – gara aku masuk terlambat, Bu Mia sedikit mengeluarkan energi
untuk memberi nasehat. Yahh.. tapi
bagaimanapun beliau itu sabarnya luar biasa. Patut diacungi jempol.” Apresiasi Neyla.
“
Iya Ney, makanya kamu jangan kebawa perasaan mulu ah. Tambah ribet tahu?.”
“
Ok, Ok, siap bos.. “
Kemudian
keduanya pun memperhatikan penjelasan Bu Mia. Di depan Bu Mia memberikan soal –
soal mengenai matrik, dengan metodenya yang unik teman – teman menjadi lebih
paham. Padahal Bu Mia baru sekali menerangkan.
“
Patut dicontoh.” Batinku dalam hati.
Kemudian
Bu Mia duduk di meja guru dan memberikan informasi.
“
Anak – anak tolong nanti dikerjakan LKS halaman 33 25 nomer ya? Besok ada jam
ibu ya? Besok kita cocokin untuk nilai tugas.” Perintah beliau.
“Baik
Bu…” sahut teman – teman.
Tak
terasa bel sudah berbunyi…
Teeeett…
teeeettt.. Teeeeeeettttt….
Kemudian
Neyla bergegas untuk ke ruang OSIS seperti kesepakatan. Dia bergegas langsung
saja ke ruang OSIS, sampai lupa berpamitan kepada temannya. Di ruang OSIS
semuanya sudah berkumpul. Rapat pun dimulai.
“
Baiklah, mari kita buka rapat kita dengan membaca basmalah secara bersama –
sama.” Pimpin Ersa.
“
Bismillahhirrohmannirrohim..”
“
Sebelumnya saya mengucapkan terimakasih kepada teman – teman yang bersedia
meluangkan waktunya untuk menjalankan amanah ini. Semoga dengan ini kita
termasuk ke dalam orang – orang yang beruntung. Aminn. Saya membawa kabar
gembira buat kalian. Tadi sewaktu masuk ke kelas Bapak Zuhri meminta saya untuk
ke kantornya. Di sana Beliau menyampaikan konsep kerja bakti bersama. Beliau
meminta kita untuk membuat rencana – rencana kreatif agar teman – teman
bersemangat dalam kegiatan ini.” Kata ketua OSIS memberikan penjelasan.
Rapat
pun berlangsung dengan seru karena banyak yang usul dan memberikan argumennya
dengan baik. Dan akhirnya dipilihlah satu konsep yang mencakup ide dari
mayoritas suara.
“
Untuk Neyla besok jangan lupa proposal sudah jadi ya? Karena waktuya mepet
sekali.” Pinta Ersa kepada Neyla.
“
Ok kak, insyaalloh.” Jawab Neyla.
“
Sepertinya demikian rapat kita pada siang hari ini. Semoga kita mendapatkan
sesuatu yang bermanfaat. Amin .. mari kita tutup rapat pada siang hari ini
dengan membaca doa Kafaratul Majlis.” Pimpin Ersa
“
Subhanakallahumma….” Ucap peserta rapat dengan serempak.
Kemudian
masing – masing dari mereka ke kelas dan melanjutkan istirahat. Ada yang
sholat, makan siang, ke perpustakaan bahkan ada juga yang berdiskusi membahas
permasalahan yang sedang terjadi.
Teeeett…
teeeettt.. Teeeeeeettttt….
Bel
pun berbunyi yang membuat semua siswa masuk ke kelas masing – msing. Tak
terkecuali kelas Neyla. Mereka segera mempersiapkan segala sesuatunya. Bu
Nailin pun masuk ke kelas dan memberikan materi tentang asam basa. Beliau menerangkan
menggunakan media presentasi, video, bahkan ada efek musiknya juga. Sehingga
suasana yang semula tersa membosankan berubah menjadi menyenangkan. Siswa –
siswa pun aktif mengajukan pertanyaan. Di akhir pembelajarannya Bu Nailin
meminta setiap siswa untuk membuat praktikum besok pagi. Banyak siswa yang
mengeluh namun beliau memberikan motivasi kepada siswanya bahwa jalanilah
semuanya dengan ikhlas dan jangan lupa untuk tersenyum maka jalan keluar akan
menghampiri.
Tak
terasa waktu menunjukkan pukul 14.30 sehingga siswa – siswa pun berbenah untuk
pulang ke rumah masing – masing. Setelah disiapkan oleh ketua kelas, teman –
teman pun bergegas keluar dan segera pulang ke rumah mengerjakan tugas yang
telah diberikan oleh Bu Mia dan Bu Nailin termasuk Neyla.
---₪₪₪₪₪---
Sampai di rumah Neyla segera
membersihkan tubuhnya. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 15.20 Neyla segera
melaksanakan Sholat Ashar. Setelah itu dia istirahat sebentar dan segera makan
karena takut maggnya kambuh. Ditemani matahari sore yang kembali ke
peraduannya, Neyla sangat menikmati sayur bayam buatan Bundanya. Begitu nikmat
dengan ditambah sambal korek ala Bundanya. Suasana sore yang mengingatkan
kepada Neyla bahwa manusia tak selamanya hidup di dunia. Suatu saat nanti
manusia juga akan kembali kepada Illahnya.
Setelah selesai Neyla segera
mengerjakan tugas – tugasnya. Memang berat mengikuti organisasi di sekolah.
Neyla harus pandai mengatur waktunya agar tidak terbengkalai. Neyla tidak
menyerah terhadap semua yang sudah terjadi
karena dia yakin bahwa Alloh pasti memberikan semuanya sesuai dengan
kemmapuannya. Dia yakin bahwa dia bisa.. Neyla ingin mewujudkan semua
impiannya. Dia ingin menjadi pionir yang menghela sejarah ke depan. Dia ingin
menjadi wanita muslimah multi talenta. Banyak yang ia persiapkan mulai dari
sekarang. Ia rela mengorbankan jam tidurnya untuk menyelesaikan semua target
yang telah ia tetapkan. Kadang kala melihat Neyla melakukan itu semua, Bundanya
tak tega. Namun, bagaimanapun juga Neyla tetap pada pendiriannya. Ia ingin
mempersiapkan semuanya sejak sekarang. Prinsipnya berakit - rakit ke hulu berenang – renang ke tepian,
bersakit – sakit dahulu bersenang – senang kemudian.
Tak terasa gema adzan Maghrib yang
mempesona membuat Neyla harus cepat –cepat untuk mempersiapkan diri, karena
sebentar lagi dia harus jamaah dengan keluarganya.
“ Bu, Neyla sudah siap nih. Ayah
kok lama ya?.” Tanyanya.
“ Iya Ney, bentar ya?.” Sahut
Bundanya.
Kemudian bergegas mencari Ayahnya
Neyla yang ada di ruang tamu. Ternyata di sana Ayahnya baru membenahi buku –
buku terbaru yang baru saja dibelinya.
“ Yah, baru apaa? Ayo jamaahan.
Neyla menunggu tuh, dia mau nggaji..” kata Bunda Ney.
“ Kalau begitu dengan sampeyan saja
jamaahnya, ini tinggal dikit. Tapi Ayah harus membersihkan diri dahulu. Jadi
mungkin agak lama.” Saran Ayah Ney kepada Bundanya.
“ Baiklah kalau begitu, kami duluan
ya Mas..” pamit Bundanya.
“ Iya.” Sahut Ayah Neyla.
Kemudian Neyla dan Bundanya pun
berjamaah berdua karena Ayahnya masih akan membersihkan diri. Setelah selesai
Neyla segera mempersiapkan buku dan alat ibadah untuk nggaji ke tetangga, Pakde
Munir. Setelah selelsai berjilbab, Neyla Pamit kepada Ayah Bundanya.
“ Ayah, Bunda Ney berangkat dulu
ya?.” Pamit Neyla.
“ Iya Ney, hati – hati ya?.” Jawab
Ayah Bundanya.
“ iya Yah, iya Bun,
assalamu’alaikum.” Salam Neyla.
“ Wa’alaikumsalam.” Balas Ayah
Bundanya.
Kemudian Ney berangkat untuk nggaji
ke rumah Pakde Munir yang terletak tak jauh dari rumahnya. Akhirnya Neyla pun
sampai dimulai dengan doa bersama dan akhirnya Pakde Munir pun mengajari Neyla
membaca AL Qur’an. Ketika sudah selesai, ada sedikit materi mengenai niat.
Beliau menerangkan bahwa segala sesuatu yang kita kerjakan adalah tergantung
dari niatnya. Jadi berniatlah dengan sungguh – sungguh agar Alloh nmengabulkan
niat baik kita. Mendengar hal itu Neyla menjadi lebih semangat lagi. Karena
beliau memotivasi Neyla untuk selalu menjadi yang terbaik.
“ Mumpung masih muda, lakukan
semuanya dengan maksimal. Nggajinya harus istiqomah, apalagi Mbak Neyla kan
wanita. Waktunya sangat sedikit untuk mengaji. Jadi yang istiqomah ya Mbak
nggajinya?.” Pesan Pakde Munir.
“ Nggeh Pakde..” sahut Neyla.
Setelah selesai Neyla pun pulang ke
rumah namun tak lupa ia berjamaah sholat isya’ dahulu dengan gurunya. Barulah
setelah selesai Neyla pulang ke rumah.
“ Pakde, Neyla pulang dahulu
nggeh?.” Pamit Neyla.
Pakde Munir mengangguk. Kemudian
Neyla langsung pulang ke rumah.
---₪₪₪₪₪---
“ Assalamu’alaikum..” salam Ney di
pintu.
“ Wa’alaikumsalam..” sahut penghuni
rumah.
Langsung saja Ney ke kamar untuk
mengerjakan tugas – tugasnya. Dia harus kuat. Yaa.. karena sebanding dengan
impiannya yang mungkin bisa dibilang banyak. Karena dia teringat pesan Bung
Karno “Bermimpilah setinggi langit maka jika kau jatuh kau akan jatuh diantara
bintang – bintang.”. Waktu sudah menunjukkan pukul 23.30. namun Ney baru bisa
menyelesaikan tugas proposal dan tugas kimianya. Jadi dia harus berjuang untuk
menyelesaikan tugas matematika dan membuat sebuah puisi. Neyla pun merasakan
kantuk.
“ huuaaaaahhh..
“ Neyla menguap dan langsung ke kamar kecil untuk membasuh mukanya. Tak lupa ia
juga mmbuat segelas teh manis untuk menghangtakan tubuh dan menghilangkan
kantuknya.
Kemudian dia
melanjutkan mengerjakan tugas – tugasnya. Ditemani malam yang semakin sunyi,
taburan bintang jelas indah menemaninya. Suara jangkrik pun menghiburnya. Tak
terasa kurang 1 tugas lagi yang harus dia kerjakan. Padahal jam sudah
menujukkan pukul 00.30. Tapi bagaimana pun juga tugasnya harus selesai. Dan
segera ia mengerjakan dengan senang hati walaupun harus terkatuk – katuk.
Tepat pukul
01.30 tugas – tugasnya sudah selesai. Neyla pun bersyukur. Ia memang harus
berjuang demi semuanya. Ayah Bundanya yang selama ini sudah berjuang
membesarkannya, dan semuanya yang sudah banyak berkorban untuk dirinya. Neyla
pun semakin kukuh dengan niatnya dan sekarang Neyla harus mempersiapkan
semuanya dengan lebih dewasa lagi. Ya …
seorang pionir bukanlah tuntutan tapi pilihan. Bisik Neyla dalam hati.