Sabtu, 08 Oktober 2016

Cerita Siang Itu

Jangan Menyerah


Tak ada manusia yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali segala yang telah terjadi
Kita pasti pernah dapatkan cobaan yang berat
Seakan hidup ini tak ada artinya lagi
Syukuri apa yang ada
Hidup adalah anugrah
Tetap jalani hidup ini
Melakukan yang terbaik
Tuhan pastikan menunjukkan
Kebesaran dan kuasanya
Bagi hambanya yang sabar
Dan tak kenal putus asa

*     Kandungan lagu “Jangan Menyerah”
Dalam menjalani hidup seseorang tidak boleh putus asa.  Karena hidup adalah anugrah dan pasti Tuhan akan menunjukkan kasih sayangnya. Seseorang harus selalu mensyukuri segala sesuatu yang ada dalam kehidupannya. Karena dengan bersyukur itulah kenikmatan akan semakin terasakan.

Cerita Siang Itu
Pagi yang dingin membawakan suasana sepi. Langit sedikit bersahabat dengan ditaburi bintang – bintang menghias mayapada ini. Tak kalah pancaran Dewi Malam ikut meramaikan lukisan kebesaran  Tuhan yang Maha Agung. Berpadu dengan gema adzan tahajud yang mengingatkan setiap hamba untuk mencurahkan semua isi hatinya dan menghadap Tuhannya.
Cahaya benderang itu membangunkan Neyla  dari mimpi panjang, ia kerjap – kerjapkan matanya dan ia geliatkan tubuhnya menikmati pergantian proses bangun dari tidurnya. Sejenak ia teringat akan lika – liku perjalanannya. Semua yang terjadi hanyalah kuasaNya dan Neyla sadar ia hanyalah wanita kerdil yang tak bisa apa – apa. Ia hanyalah wanita lemah yang mempunyai banyak impian. Namun ia sadar apalah dayanya.
Tak terasa bulir – bulir air mata menitik dari sudut mata mungilnya. Ia tak mau terlarut – larut dalam khayalan yang menjadikan manusia semakin terlena. Maka, dengan segera ia bangkit dan bergegas menuju ke belakang. Ia basuh muka, tangan dan kakinya. Byuuuurrr… sangat terasa kesejukan air sumur yang selalu tersedia di desanya. Ia sangat bersyukur bisa tinggal di desa karena alamnya sangatlah mempesona. Tak lupa ia menggosok gigi mungilnya yang setiap hari memberikan  senyum kepada orang – orang di sekitarnya.
Dilanjutkan dengan tahajud, Neyla menikmati semua gerakan sholat tahajudnya. Dimulai dengan takbir ia menyatu dengan alam, keheningan yang tercipta membuat Neyla semakin merasakan betapa dekatnya dia dengan Allah. Setelah selesai Neyla mempersembahkan doa – doa untuk orang – orang yang disayanginya. Kenangan – kenangan indah pun membayang – bayang diwajah imutnya. Ayah Bundanya yang berjuang dengan keras membuatnya menitikkan air mata.
Ayah Bunda Neyla harus berbakti, Neyla ingin menjadi anak solihah. Tak sadar terlintas rencana – rencana ke depan untuk hidupnya.
---₪₪₪₪₪---
Allahu Akbar Allahu Akbar.. Allahu Akbar Allahu Akbar…..
Gema adzan subuh membangunkan Neyla, segera ia bangun. Tak lupa ia minum segelas air untuk membantu menjaga kesehatannya. Kemudian ia mengambil air wudhu dan segera melaksanakan Sholat Subuh. Setelah selesai menghadap  Allah Neyla segera membantu Bundanya dan bersiap – siap untuk berangkat ke sekolah. Setelah selesai dengan persiapannya, Neyla pamit kepada ibunya.
“ Bu Neyla berangkat sekolah dulu ya?.” Sambil mencium tangan ibunya.
“ Iya Ney, hati – hati di jalan. Jangan lupa untuk selalu menjadi anak yang baik, hormatilah orang yang lebih tua, dan bersikap sopanlah kepada orang lain.” Nasehat Bundanya.
“ Baik bu, insyaalloh Ney ingat selalu pesan ibu.” Jawab Ney disertai kembangan senyumannya.
“ Yah, Ney berangkat dulu ya?.” Sambil mencium tangan Ayahnya.
“ Iya Ney, yang istiqomah ya Ney.” Pesan Ayahnya.
“ Assalamu’alaikum Bun, Yah.” Salam Neyla.
“ Wa’alaikumsalam..” Jawab Ayah Bundanya.
---₪₪₪₪₪---

Teeeett… teeeettt.. Teeeeeeettttt….
Bel berbunyi membuat Neyla masuk ke kelas. Setelah mempersiapkan segala sesuatunya, Ibu Guru yang mengajar mata pelajaran matematika pun masuk ke kelas. Beliau menyampaikan pelajaran decngan metode yang membuat siswa – siswa merespon dengan baik. Sehingga tak  terasa  bel pun berbunyi.
Teeeett… teeeettt.. Teeeeeeettttt….
Teman – teman Neyla pun merapikan mejanya. Ada juga yang langsung ke kantin karena bunyi yang berasal dari perut sudah  tidak dapat ditolerir lagi. Neyla sedang merapikan bukunya dan dia berbincang – bincang kepada teman sebangkunya
“Rim kamu mau ke perpus?.” Tawar Neyla
“ Gimana ya ? Hmmm.. Oklah, aku mau. Lama gag ?.” Tanya Rima.
“ Ya biasalah, soalnya mau cari referensi juga Rim.” Neyla menjawab.
“Waduh Ney, biasanya ni ya, kalau kamu dah cari gitu-gituan bakalan lama. Hmm .. Gimana ya?. Maaf ya Ney kayaknya aku enggak bisa..” Jawab Rima.
“ Oklah, enggak apa-apa. Lagian masih ada kok temen yang lainnya..”  Respon Neyla.
Kemudian Neyla pun mengedarkan pandangan ke penjuru kelas untuk mencari teman-temannya yang bisa di ajak ke perpustakaan. Dan akhirnya Neyla mengajak  Rahma untuk ke perpustakaan.
“ Hello Rahma baru sibuk gag?.” Tanya Neyla.
“ Hello juga Ney, enggak Ney, ada apa?.” Respon Rahma terhadap pertanyaan Neyla.
“ Ke perpustakaan yukk?.” Tawar Neyla.
“ Kebetulan banget nih.. Aku juga mau ke sana. “
“ Syukur deh kalau gitu, ok aku tunggu.” Jawabnya.
“ Ok ok. Bentar aku ambil buku dulu.” Pinta Rahma.
Lalu mereka pun menuju ke perpustakaan yang tak jauh dari kelas mereka. Di sana Neyla mencari referensi untuk membuat tugas biologinya. Tiba - tiba ponselnya berdering yang menunjukkan adanya pesan singkat masuk di ponselnya. Namun, tiba – tiba mukanya berubah menjadi gelisah.
“ Ada apa Ney?.” Tanya Rahma.
“ Ini ma, ada pesan dari senior kalau aku harus ke ruang OSIS. Padahal kan dah jam segini.” Jawab Neyla.
“ Ya udah enggak apa – apa. Ke sana dulu aja. Nanti aku ijinin.” Janji Rahma.
“ OK, makasih ya Rahma. Aku ke ruang OSIS dulu ya?.” Ucap Neyla dengan terharu.
“ Ok, hati – hati..” Pesan Rahma.
---₪₪₪₪₪---
Di perjalanan Neyla bertemu dengan teman – temannya, banyak yang menyapa Neyla. Bahkan ada juga yang menjabat tangannya.
“ Hello Ney, mau kemana?.” Sapa seorang temannya, Nobi.
“ Hello juga Nobi, mau ke ruang OSIS.” Jawab Neyla.
“ Oh.. Ke ruang OSIS ya? Tadi ada juga kakak kelas yang ke sana.” Jawab Nobi menginformasikan.
“ OK, makasih banyak Nobi.” Ucap Neyla.
Akhirnya Neyla pun sampai di ruang OSIS. Di sana ternyata sudah ada ketua,  wakil ketua, dan bendahara.
“ Assalamu’alaikum, ternyata udah kumpul to? Ada apa? Kok sepertinya ndadak banget?.” Tanya Neyla ingin tahu.
“ Wa’alaikumsalam.. Iya nih. Kamu lama banget..” Jawab teman-temannya.
“ Gini Ney, tadi kita dapat info dari pembina kalau sekolah mau mengadakan kerja bakti bersama. Dan kita dapat amanah untuk mengkoordinir jalannya acara tersebut.” Jawab Ersa ,ketua OSIS SMA merdeka, dengan wajah berseri-seri.
“ Iya Ney, jadi kita harus rapat untuk mengadakan acara tersebut.” Jawab Dion menambahkan.
“ Kak boleh usul tidak?.” Acung Hana sebagai bendahara.
“ Iya, silahkan..” Jawab ersa.
“ Kak, bagaimana kalau rapatnya saat istirahat kedua saja. Sekarang waktunya kurang kak, lagi pula lebih memuaskan kalau nanti istirahat, lebih panjang waktunya.” Saran Hana.
“ Iya kak, aku juga setuju dengan Hana.” Jawab Neyla.
“ OK, rapat kita lanjutkan istirahat kedua. Jangan lupa untuk mempersiapkan konsepnya ya?. ” Jawab Ersa.
“ Baiklah kita tutup pertemuan kita pagi ini dengan berdoa sesuai kepercaaan kita masing – masing. Berdoa dimulai.” Pimpin Dion.
2 menit kemudian.
“ Berdoa selesai.” Ucap Dion.
Kemudian personil OSIS itupun keluar dengan tenang. Mereka berpisah satu sama lain karena berbeda – beda kelas. Ketika keluar Neyla melihat suasana sudah sepi, padahal waktu terasa sangat sebentar sekali. Dia melihat siswa – siswa sudah masuk ke kelas masing.  Kelas pun banyak yang sudah dimasuki gurunya masing – masing. Akhirnya dia pun bergegas masuk ke kelasnya. Di kelas telihat dari luar Ibu Mia sudah ada di kelas. Tapi bagaimanapun juga  niatlah adalah untuk menuntut ilmu. Jadi apapun resikonya harus ia hadapi, termasuk sekarang. Ia terlambat masuk kelas.
“ Assalamu’alaikum.. “ salam Neyla dari pintu.
“ Wa’alaikumsalam..” jawab teman – temannya dan Bu Mia.
“ Maaf Bu Neyla terlambat, tadi baru saja rapat OSIS. “ sambil mencium tangan Bu Mia.
“ Besok – besok jangan terlambat ya? Bukankah tadi sudah berjanji masuk kelas 5 menit sebelum pelajaran?. Kalau begitu terus nantikan teman – teman bisa meniru. Kan bisa repot?.” Nasehat Bu Mia.
“ Iya Bu, maafkan saya.” Jawab Neyla dengan wajah penuh penyesalan.
“ Baiklah,  besok – besok jangan diulangi. Ibu tidak suka murid Ibu menjadi seperti ini.” Tambh Bu Mia.
“ Baik Bu.” Wajah Neyla sedikit berkaca – kaca. Dia terbawa dengan perasaannya.
“ Baiklah Ney sekarang silahkan duduk. Ingat jangan ulangi lagi ya?.” Pinta Bu Mia.
“ Baik Bu.” Janji Neyla.
Sampai di tempat duduknya, wajah Neyla menjadi merah karena malu dengan teman – temannya. Ia mengelus dadanya, karena berfikir baru saja masuk kelas tapi Bu Mia sudah memberinya banyak nasehat seakan dunia ini mau runtuh saja. Terbayang bagaimana jika seandainya rapat OSIS tadi dilanjutkan, mungkin sudah lebih parah lagi. Tapi, bagaimanapun juga Bu Mia adalah gurunya. Guru yang sangat baik hati dan sabar terhadap semua muridnya. Mana mungkin Neyla marah kepada guru favoritnya itu. Terbayang betapa berdosanya Neyla telah membuat gurunya menjadi marah kepadanya. Sebuah suara lembut pun membangunkan Neyla dari khayalannya.
“ Neyla.. “ sapa Rima yang ternyata baru saja dari ruang guru. mengambil media pembelajaran.
“ Eh Rima, iyaa.. eh ada apa? “ jawabnya agak terkejut.
“ Ada apa Ney?.” Tanya Rima.
 “ Enggak apa – apa. Tadi cuma masalah sepele aja kok. Gara – gara aku masuk terlambat, Bu Mia sedikit mengeluarkan energi untuk memberi  nasehat. Yahh.. tapi bagaimanapun beliau itu sabarnya luar biasa. Patut diacungi jempol.”  Apresiasi Neyla.
“ Iya Ney, makanya kamu jangan kebawa perasaan mulu ah. Tambah ribet tahu?.”
“ Ok, Ok, siap bos..  “
Kemudian keduanya pun memperhatikan penjelasan Bu Mia. Di depan Bu Mia memberikan soal – soal mengenai matrik, dengan metodenya yang unik teman – teman menjadi lebih paham. Padahal Bu Mia baru sekali menerangkan.
“ Patut dicontoh.” Batinku dalam hati.
Kemudian Bu Mia duduk di meja guru dan memberikan informasi.
“ Anak – anak tolong nanti dikerjakan LKS halaman 33 25 nomer ya? Besok ada jam ibu ya? Besok kita cocokin untuk nilai tugas.” Perintah beliau.
“Baik Bu…” sahut teman – teman.
Tak terasa bel sudah berbunyi…
Teeeett… teeeettt.. Teeeeeeettttt….
Kemudian Neyla bergegas untuk ke ruang OSIS seperti kesepakatan. Dia bergegas langsung saja ke ruang OSIS, sampai lupa berpamitan kepada temannya. Di ruang OSIS semuanya sudah berkumpul. Rapat pun dimulai.
“ Baiklah, mari kita buka rapat kita dengan membaca basmalah secara bersama – sama.” Pimpin Ersa.
“ Bismillahhirrohmannirrohim..”
“ Sebelumnya saya mengucapkan terimakasih kepada teman – teman yang bersedia meluangkan waktunya untuk menjalankan amanah ini. Semoga dengan ini kita termasuk ke dalam orang – orang yang beruntung. Aminn. Saya membawa kabar gembira buat kalian. Tadi sewaktu masuk ke kelas Bapak Zuhri meminta saya untuk ke kantornya. Di sana Beliau menyampaikan konsep kerja bakti bersama. Beliau meminta kita untuk membuat rencana – rencana kreatif agar teman – teman bersemangat dalam kegiatan ini.” Kata ketua OSIS memberikan penjelasan.
Rapat pun berlangsung dengan seru karena banyak yang usul dan memberikan argumennya dengan baik. Dan akhirnya dipilihlah satu konsep yang mencakup ide dari mayoritas suara.
“ Untuk Neyla besok jangan lupa proposal sudah jadi ya? Karena waktuya mepet sekali.” Pinta Ersa kepada Neyla.
“ Ok kak, insyaalloh.” Jawab Neyla.
“ Sepertinya demikian rapat kita pada siang hari ini. Semoga kita mendapatkan sesuatu yang bermanfaat. Amin .. mari kita tutup rapat pada siang hari ini dengan membaca doa Kafaratul Majlis.” Pimpin Ersa
“ Subhanakallahumma….” Ucap peserta rapat dengan serempak.
Kemudian masing – masing dari mereka ke kelas dan melanjutkan istirahat. Ada yang sholat, makan siang, ke perpustakaan bahkan ada juga yang berdiskusi membahas permasalahan yang sedang terjadi.
Teeeett… teeeettt.. Teeeeeeettttt….
Bel pun berbunyi yang membuat semua siswa masuk ke kelas masing – msing. Tak terkecuali kelas Neyla. Mereka segera mempersiapkan segala sesuatunya. Bu Nailin pun masuk ke kelas dan memberikan materi tentang asam basa. Beliau menerangkan menggunakan media presentasi, video, bahkan ada efek musiknya juga. Sehingga suasana yang semula tersa membosankan berubah menjadi menyenangkan. Siswa – siswa pun aktif mengajukan pertanyaan. Di akhir pembelajarannya Bu Nailin meminta setiap siswa untuk membuat praktikum besok pagi. Banyak siswa yang mengeluh namun beliau memberikan motivasi kepada siswanya bahwa jalanilah semuanya dengan ikhlas dan jangan lupa untuk tersenyum maka jalan keluar akan menghampiri.
Tak terasa waktu menunjukkan pukul 14.30 sehingga siswa – siswa pun berbenah untuk pulang ke rumah masing – masing. Setelah disiapkan oleh ketua kelas, teman – teman pun bergegas keluar dan segera pulang ke rumah mengerjakan tugas yang telah diberikan oleh Bu Mia dan Bu Nailin termasuk Neyla.
---₪₪₪₪₪---
Sampai di rumah Neyla segera membersihkan tubuhnya. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 15.20 Neyla segera melaksanakan Sholat Ashar. Setelah itu dia istirahat sebentar dan segera makan karena takut maggnya kambuh. Ditemani matahari sore yang kembali ke peraduannya, Neyla sangat menikmati sayur bayam buatan Bundanya. Begitu nikmat dengan ditambah sambal korek ala Bundanya. Suasana sore yang mengingatkan kepada Neyla bahwa manusia tak selamanya hidup di dunia. Suatu saat nanti manusia juga akan kembali kepada Illahnya.
Setelah selesai Neyla segera mengerjakan tugas – tugasnya. Memang berat mengikuti organisasi di sekolah. Neyla harus pandai mengatur waktunya agar tidak terbengkalai. Neyla tidak menyerah  terhadap semua yang sudah terjadi karena dia yakin bahwa Alloh pasti memberikan semuanya sesuai dengan kemmapuannya. Dia yakin bahwa dia bisa.. Neyla ingin mewujudkan semua impiannya. Dia ingin menjadi pionir yang menghela sejarah ke depan. Dia ingin menjadi wanita muslimah multi talenta. Banyak yang ia persiapkan mulai dari sekarang. Ia rela mengorbankan jam tidurnya untuk menyelesaikan semua target yang telah ia tetapkan. Kadang kala melihat Neyla melakukan itu semua, Bundanya tak tega. Namun, bagaimanapun juga Neyla tetap pada pendiriannya. Ia ingin mempersiapkan semuanya sejak sekarang. Prinsipnya berakit  - rakit ke hulu berenang – renang ke tepian, bersakit – sakit dahulu bersenang – senang kemudian.
Tak terasa gema adzan Maghrib yang mempesona membuat Neyla harus cepat –cepat untuk mempersiapkan diri, karena sebentar lagi dia harus jamaah dengan keluarganya.
“ Bu, Neyla sudah siap nih. Ayah kok lama ya?.” Tanyanya.
“ Iya Ney, bentar ya?.” Sahut Bundanya.
Kemudian bergegas mencari Ayahnya Neyla yang ada di ruang tamu. Ternyata di sana Ayahnya baru membenahi buku – buku terbaru yang baru saja dibelinya.
“ Yah, baru apaa? Ayo jamaahan. Neyla menunggu tuh, dia mau nggaji..” kata Bunda Ney.
“ Kalau begitu dengan sampeyan saja jamaahnya, ini tinggal dikit. Tapi Ayah harus membersihkan diri dahulu. Jadi mungkin agak lama.” Saran Ayah Ney kepada Bundanya.
“ Baiklah kalau begitu, kami duluan ya Mas..” pamit Bundanya.
“ Iya.” Sahut Ayah Neyla.
Kemudian Neyla dan Bundanya pun berjamaah berdua karena Ayahnya masih akan membersihkan diri. Setelah selesai Neyla segera mempersiapkan buku dan alat ibadah untuk nggaji ke tetangga, Pakde Munir. Setelah selelsai berjilbab, Neyla Pamit kepada Ayah Bundanya.
“ Ayah, Bunda Ney berangkat dulu ya?.” Pamit Neyla.
“ Iya Ney, hati – hati ya?.” Jawab Ayah Bundanya.
“ iya Yah, iya Bun, assalamu’alaikum.” Salam Neyla.
“ Wa’alaikumsalam.” Balas Ayah Bundanya.
Kemudian Ney berangkat untuk nggaji ke rumah Pakde Munir yang terletak tak jauh dari rumahnya. Akhirnya Neyla pun sampai dimulai dengan doa bersama dan akhirnya Pakde Munir pun mengajari Neyla membaca AL Qur’an. Ketika sudah selesai, ada sedikit materi mengenai niat. Beliau menerangkan bahwa segala sesuatu yang kita kerjakan adalah tergantung dari niatnya. Jadi berniatlah dengan sungguh – sungguh agar Alloh nmengabulkan niat baik kita. Mendengar hal itu Neyla menjadi lebih semangat lagi. Karena beliau memotivasi Neyla untuk selalu menjadi yang terbaik.
“ Mumpung masih muda, lakukan semuanya dengan maksimal. Nggajinya harus istiqomah, apalagi Mbak Neyla kan wanita. Waktunya sangat sedikit untuk mengaji. Jadi yang istiqomah ya Mbak nggajinya?.” Pesan Pakde Munir.
“ Nggeh Pakde..” sahut Neyla.
Setelah selesai Neyla pun pulang ke rumah namun tak lupa ia berjamaah sholat isya’ dahulu dengan gurunya. Barulah setelah selesai Neyla pulang ke rumah.
“ Pakde, Neyla pulang dahulu nggeh?.” Pamit Neyla.
Pakde Munir mengangguk. Kemudian Neyla langsung pulang ke rumah.
---₪₪₪₪₪---
“ Assalamu’alaikum..” salam Ney di pintu.
“ Wa’alaikumsalam..” sahut penghuni rumah.
Langsung saja Ney ke kamar untuk mengerjakan tugas – tugasnya. Dia harus kuat. Yaa.. karena sebanding dengan impiannya yang mungkin bisa dibilang banyak. Karena dia teringat pesan Bung Karno “Bermimpilah setinggi langit maka jika kau jatuh kau akan jatuh diantara bintang – bintang.”. Waktu sudah menunjukkan pukul 23.30. namun Ney baru bisa menyelesaikan tugas proposal dan tugas kimianya. Jadi dia harus berjuang untuk menyelesaikan tugas matematika dan membuat sebuah puisi. Neyla pun merasakan kantuk.
“ huuaaaaahhh.. “ Neyla menguap dan langsung ke kamar kecil untuk membasuh mukanya. Tak lupa ia juga mmbuat segelas teh manis untuk menghangtakan tubuh dan menghilangkan kantuknya.
Kemudian dia melanjutkan mengerjakan tugas – tugasnya. Ditemani malam yang semakin sunyi, taburan bintang jelas indah menemaninya. Suara jangkrik pun menghiburnya. Tak terasa kurang 1 tugas lagi yang harus dia kerjakan. Padahal jam sudah menujukkan pukul 00.30. Tapi bagaimana pun juga tugasnya harus selesai. Dan segera ia mengerjakan dengan senang hati walaupun harus terkatuk – katuk.
Tepat pukul 01.30 tugas – tugasnya sudah selesai. Neyla pun bersyukur. Ia memang harus berjuang demi semuanya. Ayah Bundanya yang selama ini sudah berjuang membesarkannya, dan semuanya yang sudah banyak berkorban untuk dirinya. Neyla pun semakin kukuh dengan niatnya dan sekarang Neyla harus mempersiapkan semuanya dengan lebih dewasa lagi.  Ya … seorang pionir bukanlah tuntutan tapi pilihan. Bisik Neyla dalam hati.

























Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Syair Cinta Rabiah al Adawiyah Al Bashriah part 9

Rasa riangku, rinduku, lindunganku Teman, penolong, dan tujuanku Kaulah karibku, dan rindu pada-Mu Meneguhkan daku Apa bukan pa...